March 20, 2012

Kentut (2011)

Kentut (2011)








“Di negeri ini kebenaran dan kebetulan tipis bedanya”



Di Kabupaten Kuncup Mekar, dua calon wakil Bupati sedang gencar-gencarnya melakukan kampanye. Calon pertama dengan nomor urut pertama adalah pasangan Patiwa (Keke Soeryo) dan Ki Orka. Sedangkan nomor urut dua adalah pasangan Jasmera (Deddy Mizwar) dan Delarosa (Iis Dahlia) dari partai Asam Lambung. Suatu hari ketika selesai mengisi acara di TV Netral, Patiwa tertembak. Patiwa pun segera dilarikan ke rumah sakit dan di operasi. Pasca operasi, Patiwa tetap harus menjalani perawatan serius di Rumah Sakit, karena dia harus menunggu hingga keluarnya KENTUT.





Ketika kentut menjadi harga yang mahal dan ditunggu-tunggu. Mungkin seperti itulah kira-kira gambaran kasar dari film berdurasi 90 menit ini. Dimana seorang calon Bupati yang baru dioperasi karena terkena tembakan ketika keluar dari gedung stasiun TV Netral, ditembak di dadanya dan harus menunggu hingga keluarnya kentut dari tubuhnya supaya dinyatakan dalam kondisi yang cukup baik untuk melanjutkan pemilihan calon bupati.



Tapi sepenuhnya, bukan hanya itu inti dan pesan dari film ini. Banyak sindiran-sindiran yang dialamatkan pada negeri ini beserta masyarakatnya sendiri. Sindiran yang terdengar sangat 'nyelekit' di telinga namun tanpa sadar mungkin kita sendiri pernah melakukannya, seolah-olah kita sedang menertawakan diri kita sendiri tanpa kita menyadarinya. Sebagai contoh, seorang OB (Office Boy) yang dengan mudahnya mengeluarkan kentut tapi malah berkali-kali ditegur, sedangkan sang calon bupati kentutnya sangat ditunggu-tunggu dan menjadi sesuatu yang mahal harganya, ibarat seperti 'orang kecil' itu selalu diperlakukan semena-mena oleh 'orang besar'. Atau seperti sindiran kebebasan pers yang selalu menjadi dalih-dalih para wartawan, padahal ketika disinggung bahwa mereka pun melanggar UU orang lain, mereka hanya bisa diam tak berkutik. Sayangnya, sindiran yang dibuat kadang terlalu berlebihan dan malah membuat jadi garing film ini sendiri.



Selain itu, banyak sekali hal-hal yang cukup mengganggu pemandangan dan pendengaran dalam film ini. Contohnya para suster yang berpakaian seksi - entah apa maksud dan tujuannya tapi sangat merusak pemandangan mata - mondar mandir kayak setrikaan, atau para figuran yang jumlahnya sangat banyak di rumah sakit yang benar-benar membuat kesal sendiri menontonnya. Akting mereka sangat sangat tidak alami dan terlalu berlebihan. Suara bising - yang entah sengaja atau tidak - dibiarkan alami seperti itu sangat merusak pendengaran. Belum lagi pakaian si tukang jualan baju yang ala kyai itu ternyata bagian belakangnya malah bergambar lidah menjulur ala Rolling Stone yang benar-benar sangat 'merusak', merusak iman, merusak mata dan merusak segalanya. Mungkin bermaksud menyindir, tapi terkesan sedikit keterlaluan dan berlebihan. Belum lagi sindiran-sindiran lain seperti kegiatan berdoa bersama antar agama, atau orang-orang yang suka mencari kesempatan dalam kesempitan, seperti menggelar pasar dadakan di halaman rumah sakit, padahal niat awalnya ingin mendoakan sang calon bupati agar bisa kentut dan kembali sehat pun terasa tidak enak dilihat. Bahkan, sponsor iklannya kentara banget dan agak sedikit mengganggu terutama iklan sosis itu.



Namun, terlepas dari semua kekurangannya, film ini diisi oleh jajaran pemain yang sudah punya nama dan kemampuan aktingnya pun tidak usah diragukan lagi seperti Deddy Mizwar, Ira Wibowo, Cok Simbara, Anwar Fuadi. Tapi akting Keke Soerya yang memerankan Patiwa malah terlihat kaku sendiri dan terlalu jaim. Walaupun sosok Patiwa memang digambarkan seperti itu, namun seharusnya Keke bisa lebih mengeksplore aktingnya agar tidak kaku dan terlalu jaga image seperti itu. Selain tokoh-tokoh utama, ada juga tokoh pendukung yang ternyata cukup mencuri perhatian, yaitu sang satpam rumah sakit, Rahman Sianipar yang diperankan oleh Rahman Yakob dengan logat khas bataknya yang seringkali membuat nyengir bahkan mungkin tertawa jika mendengar omongannya yang spontan.



Well, mungkin film ini memang bukan yang terbaik namun jauh lebih bagus ketimbang film-film yang memakai nama horor namun hanya mengumbar paha doang.


Kentut... baik untuk diri sendiri tapi merugikan orang lain.













No comments:

Translate

Waiting Lists

Sur mes lèvres.jpg Dark, brown-tinted and horror-themed image of a man in an asbestos-removal suit (to the right side of the poster), with an image of a chair (in the middle of the image) and an image of a large castle-like building at the top of the image. The text "Session 9" is emboldened in white text in the middle of the image, and near the bottom of the image is written, "Fear is a place." Lisbeth Salander with Mikael Blomkvist The Girl Who Played with Fire.jpg Page turner.jpg Le trou becker poster3.jpg Nightwatch-1994-poster.jpg Headhunter poster.jpg On the Job Philippine theatrical poster.jpg The Song of Sparrows, 2008 film.jpg The-vanishing-1988-poster.jpg Three Monkeys VideoCover.png